25 April 2021 15:04 wib
  • berita

 

         Dalam acara Ramadhan in Campus Fakultas Sains dan Teknologi UIN SU Medan, Tanggal 15 April 2021, di kampus 4 Tuntungan, Dr. Achyar Zein, M.Ag. membahas tema “Puasa Dalam Perspektif Sains,”. Beliau mengemukakan bahwa dalam memahami hikmah puasa, pendekatan yang dilakukan harus dari berbagai dimensi yang tidak hanya pendekatan normative dan spiritual tapi juga pendekatan sains.

        Pendekatan sains membuat puasa tidak lagi dianggap sebagai beban tetapi sudah merupakan kebutuhan karena perannya dalam memajukan peradaban manusia. Oleh karena itu, masing-masing akan merasakan jika puasa dikerjakan maka manfaatnya untuk diri sendiri dan jika ditinggalkan maka mudharatnya juga untuk diri sendiri.

         Jika hikmah-hikmah puasa sudah terkuak maka kita akan berani membuat statement seperti yang dilakukan Umar bin Khattab pada masa kejayaan Islam dengan mengutip firman Allah dalam Q.S. al-Kahfi ayat 29 “fa man syaa a fal yukmin, wa man syaa a fal yakfur” (Siapa yang mau beriman silakan dan yang mau kafir juga silakan). Umar menjelaskan bagaimana hebatnya Islam, bagaimana modernnya Islam dan bagaimana Islam mampu menata masyarakat yang baik, anda mau masuk Islam terserah dan tak masuk Islam juga terserah, yang rugi bukan siapa, anda sendiri yang rugi. Seharusnya kata-kata yang seperti ini juga terjadi pada puasa. 

        Selanjutnya Achyar juga menyampaikan bahwa keawetan atau tingkat awet muda orang yang berpuasa juga 85% dibanding orang yang tak mau berpuasa. Jadi ibu-ibu tidak usahlah ke salon, berpuasa sajalah. Lain lagi dengan penurunan kolesterol, gula darah, dan sebagainya. Bahkan saya pernah membaca, yang paling menarik, dalam 11 bulan ada racun yang tidak bisa diserap di dalam tubuh kita, serta tidak pula bisa rusak dan terbuang. Jika dibiarkan saja dapat menimbulkan penyakit-penyakit lain. Tapi yang bisa memusnahkan, menghisap dan menghabiskannya  adalah puasa pada bulan Ramadan. Maka wajar kata Rasulullah, “Puasalah kamu supaya kamu sehat. 

          Sebagai bagian dari Fakultas Sains dan Teknologi, maka sudah menjadi kewajiban kita, ibadah-ibadah yang selama ini rutin kita kerjakan bagaimana bisa kita dekati melalui pendekatan sains dan teknologi. Kita berharap bahwa dengan konsep “wahdatul ulum” yang digagas oleh Pak Rektor UIN Sumatera Utara, kita bisa mengeluarkan ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat bagi ibadah-ibadah lain, khususnya ibadah puasa ini. Sehingga kita mampu menunjukkan apa yang diwajibkan oleh Allah pastilah terbaik untuk hamba-hambanya bukan hanya sebatas retorika. Kita harus membuka kavling baru mendekati puasa dengan pendekatan sains dan teknologi.