30 April 2021 09:23 wib
  • berita

Dalam acara Ramadhan in campus yang digelar FST secara marathon pada tanggal 19 April 2021 dengan tema Wahdatul Ulum dalam perspektif Sains dan Teknologi menampilkan duo narasumber Dr. Sahdin Hsb & Dr. Abdul Halim Daulay.

Dr. Sahdin mengemukakan bahwa dalam berbagai kesempatan dialog-dialog terbatas sering muncul dari para dosen di Fakultas Sains dan Teknologi (selanjutnya disebut FST), sering muncul pertanyaan: mengapa kita harus menggunakan atau mengimplementasi Wahdatul Ulum sebagai paradigma keilmuan di UIN SU? Pertanyaan ini muncul bisa dimaklumi karena para dosen FST ini secara umum berasal dari berbagai  perguruan tinggi terkemuka dalam dan  luar negeri.

          Untuk menjawab pertanyaan di atas saya dengan mudah saja menjawab bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang pesat sekarang ini  menjadi spesialisasi-spesialisasi yang “lupa diri” berawal dari satu kesatuan (unity of knowledge) dan berasal dari  Yang Satu yaitu Allah yang Maha Mengetahui (al-Alim). Dalam perkembangannya ilmu ini ternyata tetap saja tidak mampu menjawab berbagai problema kemanusiaan,

Selain itu munculnya dikotomi keilmuan antara ilmu-ilmu agama (science of relgion) atau lebih spesifik ilmu-ilmu agama (Islamic studies} dengan ilmu-ilmu umum (natural science, social  science, humaniora) awalnya hanya sekedar identifikasi dan kategori saja, tetapi kemudian menjadi problema tersendiri yang justru saling merendahkan dan bahkan menafikan dalam hal kebenaran. Dalam perspektif Islam ilmu atau sains juga bersumber dari yang satu yaitu Allah Yang Maha Tahu (al-Alim) yang disebut Islamic knowledge atau Islamic sains)

          Wahdatul Ulum diinplementasikan  diharapkan mampu menjembatani dan mendialogkan berbagai ilmu pengetahuan yang sudah terspesialisasi dan  mengalami dikotomi agar bersinergi dan berintegrasi dalam memberi jawaban  terhadap berbagai problema kemanusiaan karena pada dasarnya ilmu pengetahuan berasal dari sumber yang satu yaitu Allah  Yang Maha Mengetahui (al-Alim). Allah Yang Maha Tahu,  memberi ilmu pengetahuan kepada siapa yang sungguh-sungguh  mencarinya, bagi siapa saja baik yang mengetahui diri-Nya maupun bagi yang tidak mau tahu dengan diri-Nya. Ilmu  yang datang dari dirinya tidak bertentangan satu sama lain, jika terjadi pertentangan pasti karena kemampuan manusia yang belum memahami yang sesungguhnya.

          Tragedi konflik ilmu pengetahuan dengan  agama di Barat sehingga kaum saintis menerima hukuman memberikan dampak yang luas hingga  saat ini. Hubungan sains dan agama menurut Ian G Barbour terbagi menjadi empat yaitu hubungan konflik, independensi, dialog, dan integrasi yang terjadi  harus menjadi tantangan bagi Wahdatul Ulum, terutama terkait tipologi konflik dan independensi karena ini tidak sesuai dengan paradigma Wahdatul Ulum. Sementara terkait tipologi dialog dan integrasi perlu penjelasan  argumentatif bahwa hubungan agama dan sains saling mendukung dan terintegrasi.

Sementara dalam tipologi konflik agama dapat dilihat dari pandangan Auguste Comte  yang membagi perkembangan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan  dan perkembangan yang lainnya  selalu mengikuti hukum  alam yang emperis sifatnya, yaitu tahap teologis, tahap metafisik dan positif. Pada tahap pertama, teologis bahwa semua gejala  dihasilkan dari tindakan  langsung dari hal-hal supranatural. Apapun yang terjadi gejala alam seperti bencana, kesuburan tanah dan nasib manusia sepenuhnya atas kehendak dan campurtangan dari Adikodrati, dewa atau Tuhan. Sementara tahap kedua metafisik mulai ada perubahan bukan kekuatan supranatural yang menentukatetapi kekuatan abstrak, hal yang nyata melekat pada semua benda. Di sini perlu praktik magis, diterima atau tidak dilakukan praktis magis, seperti tawar menawar dengan supranatural, Sementara tahap positif, manusia sudah memiliki kekuatan ilmu pengetahuan untuk mengendalikan alam dan kehidupannya. Pada tahap itu agama tidak diperlukan lagi.

          Pendapat August Comte ini jelas bertetangan atau konflik dengan agama Pendapatnya itu sangat berpengaruh dikalangan ilmuan Barat, dimana ilmu penetahuan dan teknologi dapat dikembangkan apalbila dilakukan dengan metodologi agnostik bahkan ataeistik. Tujuan pengembangan sain dan teknologi harus bebas nilai (scence for science) dan pemikirannya tersebut tentu tidak sesuai dengan Wahdatul Ulum yang diimlementasikan di UIN SU Medan. Karena dalam perspektif Wahdatu; Ulum Tuhan hadir dalam setiap aktivitas termasuk dalam riset dan hukum alam ditentukan oleh Allah Yang Maha Tahu (al-Alim).  Dan  ilmu pengetuan dan teknologi dikembangkan harus syarat nilai, yaitu untuk menuju ridha Allah dan kemaslahatan umat manusia. Kampus IV Tuntungan, 19 April 2021

 

Sedangkan narasumber kedua Dr. Abdul Halim Daulay lebih menitikberatkan paparannya pada tataran bagaimana mengimplementasikan paradigma WU dalam pembelajaran. Dr. Halim yang juga merupakan bagian tim taskforce WU UIN-SU menyoroti pentingnya melakukan pengembangan kurikulum FST yg berorientasi pada (1) penguasaan ilmu dalam bidang tertentu (Alquran, Alhadits, keilmuan prodi/fakultas), (2) wawasan yang luas (multi, inter, dan transdisiplin), (3) kemampuan konkretisasi ilmu untuk kemajuan bangsa, pengembangan peradaban, dan kesejahteraan umat manusia.

 

Untuk mencapai WU maka dalam kegiatan pembelajaran dosen FST perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut:

(1) memaksimalkan kemampuan dalam menguasai ilmu di bidangnya;

(2) menggunakan teknik pembelajaran yang interaktif (diskusi, eksperimen, dan lain-lain);

(3) melaksanakan perkuliahan tepat waktu dan memanfaatkannya secara penuh;

(4) perkuliahan/diskusi bernuansa korelasi antara ilmu yang dipelajari dan ilmu-ilmu bidang lainnya;

(5) perkuliahan diarahkan untuk menumbuhkan minat dan kemampuan mahasiswa dalam melakukan konkretisasi  ilmu;

(6) membimbing mahasiswa untuk menginternalisasi nilai-nilai ilmu dalam peningkatan kualitas integritas dan akhlak mahasiswa.